Popular Post

Archive for 2013

By : Unknown
Terasa berat seluruh tubuh.
Melampirkan dmdam melumatkan cerita.
Huruf hidup adalah inspirasi, ocehan,sanjungan semua trawasi.
Inikah yang indah?
Inikah sumpah?
Polemik kesadaran langkah jiwa.
Hardikan adalah masukan.
Berarti untuk memilih antara
Kecewa, atau terluka!


Ku tatap langit-langit kamarku, tempat ku melukiskan rasa ku setiap hari. Aku bukan tipe orang yang terlalu aktif dalam bersosialisasi. Terbuki sampai sekarang aku hanya memiliki beberapa orang teman yang hanya berbicara denganku disaat-saat tertentu. Ya, mungkin karna faktor itu aku lebih suka mengurung diriku dikamar dan mulai memgembangkan imajinasiku. Seperti saat ini.
Oh, namaku Yukio.
Aku lahir disebuah keluarga yang selalu sibuk mengejar materi dan tahta. Tak ada hal yang menarik yang dapat ku ceritakan tentang keluargaku. Orang tuaku bekerja dalam bidang yang sama di perusahaan yang berbeda. Itu membuat mereka tak penah membicarakan masalah "bisnis" mereka dirumah. Dan itu yang membuatku tak tahu dan tak ingin tahu tentang hal itu.
Tak begitu penting untuk diceritakan memang.

DEN, The Daemon Hunters

By : Unknown

Warning : Ocs, Gantung, aneh, gak jelas, alur berantakan

Pairing : DenRei
Genre : ?
Status : WIP


Summary : Jangan mengeluh, kalian Cuma lemah. Kau dan ibumu. Begitulah akhir hidup orang-orang yang lemah yang bergantung pada iblis


“Den!!” bentak Yuu sensei dari depan kelas.
“Hm.” Balas yang dibentak.
Wajahnya terlihat biasa saja. Tak ada perubahan ekspresi sedikitpun.
Padahal Yuu sensei terkenal sebagai guru tergalak di D.H highscool.
“Kau ini, blablablablablablabla. Sekarang kau keluar dari kelas. Dan jangan pernah masuk lagi.” Ucap Yuu sensei.
“Hn.” Den masih tanpa ekspresi meraih tasnya, berdiri dan berjalan keluar dari kelas, Menuju kantin.
Yuu sensei dan teman-teman yang sekelasnya hanya terbengong memandang kepergian Den.

Sesampainya di kantin, Den meraih botol minuman dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Diam. Lagi-lagi hanya itu yang ia lakukan.
“Den.” Panggil sebuah suara dari arah belakangnya.
Jantungnya bedegup keras. Ia sangat mengenal suara itu.
Den membalikkan badan, memandang gadis yang berseragam sama sepertinya.

“Boleh rei duduk” pinta Rei.

“ngga.” Balas Den mencoba bersikap sedingin mungkin.

“Den.” Panggil Rei sekali lagi.

“Ya?” jawab Den, kini suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Dan perubahan intonasinya tertangkap jelas oleh Rei.

Rei tersenyum. Emeraldnya memperhatikan 2 safir milik Den dengan seksama.
Den hanya diam.
Tak tau apa yang harus dilakukannya.
Ia memang terkenal dingin kepada siapapun.
Ya, kepada siapapun kecuali gadis yang saat ini berada di hadapannya.

Rei mengusap perlahan rambut hitam Den.
“Ada apa? Kau terlihat kacau.” tanya Rei.

Den hanya diam. Menundukkan kepalanya.
Berusaha menjauhi 2 emerald milik Rei.
“bisa, jangan campuri urusan ku?”
ucap Den membuat Rei terdiam.

“maaf” hanya itu yang bisa di katakan Rei sebelum ia melangkah menjauhkan dirinya dari Den.
Den bangkit, mengikuti kepergian Rei dengan ujung mata nya.

“Den.” Panggil Kenn tiba-tiba dari arah belakang.

Den berbalik, memandang Kenn sejenak dan menunggu apa yang akan di sampaikan Kenn padanya.

“Ada sebuah kota mati yang memerlukan jasa pemburu. V sensei memerintahkanku untuk mengutusmu kesana. Alasannya karna kau berasal dari sana, dan tau setiap jengkal keadaan disana” ucap Kenn panjang lebar.

‘kota mati? Tempat asalku?’ tanya Den dalam hati.
“Seireitei” mata Den terbelalak.

*******************

#craaaassssshhhhh.
“Sial.” Den kecil mencoba mendekati tubuh ibunya yang tergeletak agak jauh darinya.
“Jangan mengeluh, kalian Cuma lemah. Kau dan ibumu. Begitulah akhir hidup orang-orang yang lemah yang bergantung pada iblis.” Ucap seorang pria yang mengenakan baju serba hitam dan menggenggam dua katana.

“Diam!” balas Den.
“Den..” panggil ibunya lemah, moncoba merangkak mendekati Den.
Tubuh Den gemetar saat melihat keadaan itu.
#crassssshhhhhhhhhhh.
Dua katana pria tadi mendarat tepat di punggung ibu Den di barengi teriakan iblis.
Den Diam. Matanya terlihat hampa memandang tubuh ibunya yang tak lagi bernyawa.
“Orang baik maupun jahat, begitu tercemar oleh iblis, aku harus membunuhnya” ucap pria itu lagi.


“Kau baik-baik saja Den?” tanya Kenn menghentikan lamunan Den.

“Ya” jawab Den singkat.

“Kalau begitu aku akan mengirimmu sekarang. Kau siap?” tanya Kenn lagi.

“Tentu” jawab Den masih singkat.

“^*&%$@!$%&*((**^$##%&” kenn mulai membaca mantera dan perlahan tubuh Den di transport ke tempat di mana ia di tugaskan.

*******************************************************

Criss Elbert

By : Unknown


Nahh..
Muncul lagi nih fic aneh dari saya. Haha..
Padahal fic sebelah belom kelar. *pundung.
Tapi, berhubung ide nya udda singgah, dan takut mubazir,, yauddaaa, akhirnya lahirlah fic ini. :DD
Okkeeehh. Cukup basa basi nya..
ENJOY IT!!!

Warning : OCs, Gaje, Ganya, Kurang pendeskripsian,
alur terlalu berantakan, dll.
Genre : Dark
Status : WIP

DON’T LIKE DON’T READ!!!!!!!!!!!

Chapter 1

                Kegelapan mulai meradang dalam fikiran dan jiwanya.  Luka masa lalu yang diderita tak pernah berhenti menyiksa. Desahan dan helaan nafas yang berulang-ulang sering kali terdengar di pagi hari atau tengah malam saat ia tiba-tiba tersadar dari peristirahatannya. Dan keringat dingin yang sembari keluar saat itu terjadi, sebenarnya sudah cukup untuk membuatnya tak perlu mandi  lagi.
                Nama yang di berikan oleh orang tuanya dahulu adalah Viola Brandwiey. Namun nama itu telah ia tinggalkan sejak  7  tahun lalu. Saat peristiwa mengenaskan itu terjadi.  Dan sejak saat itu, ia yang masih berusia 11 tahun, memberanikan diri terjun dalam dunia kegelapan untuk membalaskan dendamnya yang entah pada siapa dan atas alasan apa.  Ia mengubah namanya menjadi Criss Elbert. Dan di mulailah hidupnya sebagai pembunuh bayaran. Dahulu, Criss kecil menerima pekerjaan dari kenalan-kenalan terdekat. Namun sejak namanya mulai terkenal di kalangan para pembunuh, Criss di kontrak dalam jangka waktu yang tidak dibatasi oleh seorang pengusaha yang juga telah mengontak beberapa pembunuh di antaranya Ell, Anne, dan PaulDalam sejarah pembunuhan, Ell, Anne, dan Paul adalah pembunuh kelas atas yang terkenal bengis dan tak pernah tau arti kata prikemanusiaan ataupun prikehewanan. Mereka hanya akan melakukan apa yang di perintahkan Boss mereka tanpa peduli apapun. Begitu pula Criss. Berbekal luka masa lalu, ia berhasil menyamai kakak-kakak seprofesinya. Namun hingga saat ini, Criss, Ell, Anne, maupun Paul sama sekali belum pernah melihat wajah dari orang yang memerintah dan membayar mereka. Hal ini sangat amat aneh bagi saya *di getok, tapi tidak begitu bagi mereka.


*****

                Criss beranjak dari ranjang mungil nya, melihat sebentar kelangit-langit kamarnya. Dan berjalan santai menuju cermin yang ada di sebelah timur tempatnya berdiri tadi. Ditatapnya pantulan wajahnya di cermin. Ada setitik noda merah di pipi kanannya. Tanpa perubahan ekspresi dan menganggap bahwa itu adalah hal biasa, segera ia mengambil handuk dan diusapkannya perlahan di pipi kanannya tadi. Tak ada bekas luka. Itu berarti cairan merah yang telah mengering tadi bukan berasal dari tubuhnya. Tak ingin terlalu lama memikirkan hal yang tak penting itu, Criss melayangkan matanya kearah arloji yang melekat indah di pergelangan tangan kirinya. 08.37. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bersantai.
                Masih dengan posisi yang sama, di raihnya phonecell yang tergeletak di atas meja di sebelahnya. Jarinya menari, menekan angka demi angka hingga membentuk deretan angka yang di inginkannya. Segera ia menekan tombol call. Tak lama terdengar nada sambung trio macan “iwak peyek” dari seberang ( Criss : genre nya dark cooyyy. Masa iwak peyek.. Me : hehehe.. pissssss. :P)
“Ada kabar apa Criss?” Tanya suara yang tak asing di telinga Criss.
“Seperti keinginanmu, aku telah membunuhnya.” Jawab Criss datar.
“Baguslah, bayaranmu telah ku transfer.” Ucap suara itu lagi.
“Oke” Balas Criss.
Tak ingin berlama-lama berbicara dengan orang yang menurutnya tak terlalu penting itu, langsung di tekannya tombol end call di phonecell nya.

                Belum sempat ia beranjak dari tempatnya, phonecellnya bergetar. Langsung di raih dan di baca nya message yang ternyata dari bossnya. Berisi nama dan alamat lengkap target nya hari ini.
Sesegera mungkin ia berkemas, dengan 2 pistol dan 1 pisau ukuran kecil. Di hidupkan motornya setelah ia berada di depan rumahnya. Kemudian di kendarai dengan kecepatan sedang.

                Tak sampai 35 menit saat ia menerima pesan itu, kini target telah berada di depannya. Di ikutinya target yang melaju dengan santai itu. Namun, merasa di ikuti, target kini mempercepat laju motornya.  Tak dapat di elakkan lagi. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Sampai di jalur yang lumayan sepi, Criss tak ingin  menyia-nyiakan kesempatan. Di salibnya motor target dan di hentikan motornya sendiri. Membuat target mau tak mau menghentikan motornya juga. Criss turun dari motornya dengan menggenggam pistol. Target shock bukan main, ia _target itu_ berusaha melarikan diri namun itu perlawanan yang sangat sia-sia untuk seorang pembunuh yang kini memasuki kelas atas itu. Target terpojok, dan sadar serta pasrah akan ajal yang akan menjemput. Criss mendekat. Menempelkan pistolnya tepat ke pelipis kiri target.
“tu,…tunggu” mohon target.
Criss tak mempedulikan permohonan itu. Langsung saja ia tarik pelatuk pistolnya  dan #Duaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr..
Darah segar keluar dari kepala target yang kini tak bernyawa lagi.
Dengan santai Criss mengambil sebotol aQua yang selalu ia bawa. Membuka tutupnya dan menumpahkan isinya ke wajah dan pergelangan tangannya dengan tujuan menghilangkan noda darah yang melekat.
                Di ambil phonecell dari saku nya, dan seperti pagi tadi, di tekannya deretan angka yang ingin di tuju.
“Ya Criss? Kau mengalami masalah?” Tanya suara boss nya dari seberang.
“Tidak, aku telah melakukan keinginanmu.” Ucap Criss masih datar..
“Hahaha. Kau telah banyak berkembang Criss. Bayaran mu telah ku transfer.”  Puji suara itu.
“Baiklah.” Balas Criss yang langsung menutup pembicaraan.

                Criss berjalan menghampiri motornya. Di hidupkan dan di kendarainya dengan kecepatan tinggi.






  •  



TBC

Saran(ya). :DD

- Copyright © Rei Riie - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -