- Back to Home »
- Mukhtashar Raudhur-Raiyahin-Allamah Alyafi'iy - Cerita 59
Posted by : Unknown
Selasa, 20 Januari 2015
Cuma ngebantu nge share yg ada di buku aja :v
Sumber : Mukhtashar Raudhur-Raiyahin-Allamah Alyafi'iy
Sebelumnya saya memohon maaf kepada penulis atas kelancangan memposting dan sedikit menyederhanakan bahasa di cerita ini, tapi itu udah di cantumin sumbernya kok >.< (ceritanya ga mau di salahin :v )
Cerita 59, halaman 278
Di ceritakan oleh Bohlul r.a
Pada suatu hari ketika aku berjalan-jalan di tengah-tengah kota Bashrah, aku menjumpai banyak anak-anak yang sedang bermain kelereng. Kemudian aku melihat salah seorang di antara mereka sedang menangis. Aku kasihan kepada anak itu, aku berpikir 'mungkin dia tidak memiliki kelereng, makanya dia menangis'.
Aku mendekati anak yang menangis itu, lalu berusaha membujuknya
"Jangan menangis, nanti ku belikan kamu kelereng untuk bermain"
Mendengar bujuk rayuku anak itu berhenti menangis, tetapi raut wajahnya terlihat membantah bujukanku. Aku tidak mengerti, tetapi tetap saja ku lanjutkan bujukanku
"Ayo ku belikan kamu kelereng supaya kamu bisa bermain dengan mereka" sambil aku menunjukkan telunjukku kepada anak-anak yang sedang bermain di situ.
"Orang tua bodoh yang tidak punya akal" anak itu mencelaku.
Aku terperanjat mendengar kata-kata itu dari mulutnya.
"Kami ini bukan di ciptakan Tuhan untuk bermain-main". dia lalu menangis lagi.
Saya lebih kaget lagi setelah mendengar ucapannya yang terakhir itu. Apakah dia faham akan apa yang diucapannya?
"Jadi, untuk apa kita di ciptakan Tuhan?" tanyaku meminta penjelasan.
"Untuk belajar ilmu dan untuk beribadah" Jawabnya dan kini dia sudah tidak menangis lagi, hatinya lega setelah dia meluapkan apa yang mengganjal di hatinya.
"Untuk belajar ilmu dan mengerjakan ibadah?" Aku dengan kagum mengulangi perkataannya tadi. "Fahamkah kamu apa yang kamu katakan itu?" Tanyaku sekali lagi.
Dia tidak langsung menjawabku, kali ini dia mengamat-amati wajahku. Saya heran dengan apa yang ada di pikiran anak ini.
"Jika kamu tau, katakanlah" pintaku
"Tidakkah paman pernah membaca ayat Al-Qur'an?"
"Coba jelaskan kepadaku" Pintaku sekali lagi.
"Ayat ini"
.أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّما خَلَقْناكُمْ
عَبَثاً وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنا لا تُرْجَعُون
Maksunya : Apakah kamu menyangka bahwa itu semua Kami jadikan dengan
sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?
(Al-Mu'minun : 115)
"Wah, benar sekali kata-katamu itu" Aku kagum dan heran, seorang anak yang masih kecil begini sudah pintar menghujah orang tua dengan kata-kata yang benar sekali.
"Aku belum pernah menemui seorang anak yang seperti kamu ini, siapa yang mengajarimu?"
"Ibuku" jawabnya pendek.
"Maukah kamu memberiku nasehat?" tanyaku. "Meskipun kamu masih kecil, kamu adalah orang yang bijak" tambahku.
Dia terlihat senang dengan pujianku dan kemudian dia merangkaikan syair ini :
Aku lihat dunia terus diperhatikan orang
Dikejar kesana kesini diminati bukan kepalang
Namun dunia ini tidak pernah kekal bagi yang mengejarnya
Dan yang mengejarnya pula tiada selamanya kekal dengan dunianya
Bahkan maut yang kejam terus membuntuti mangsanya
Laksana seekor kuda tangkas yang laju berlarinya
Wahai orang yang terharu dengan dunia, perlahan sebentar
Ambillah apa saja darinya ala kadar tapi mesti benar
Anak itu lalu mengangkat kepalanya ke arah langit, sedangkan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke atas. Lisannya pun terus berkomat-kamit entah apa yang di ucapkannya, kemudian dia menangis. Air matanyapun bercucuran membasahi kedua pipinya. Kemudian dia terjatuh dan pingsan.
Aku segera mengangkat kepalanya dan meletakkannya ke atas pangkuanku. Debu-debu yang melekat di wajahnya ku bersihkan sampai dia sadar kembali. Setelah dia sadar, sayapun bertanya :
"Hei anak kecil" kataku "Apa yang terjadi kepadamu? Bukankah kamu masih kecil dan kamu belum menanggung dosa apapun". Ku coba menenangkan dirinya dengan kata-kata yang meringankan pikirannya.
"Kenapa paman Bohlul bicara seperti itu?" Aku heran darimana dia tau namaku.
"Itukan benar" Kataku.
"Tapi aku pernah melihat ibuku menghidupkan api dengan kayu-kayu yang kecil sebelum yang besar" jelasnya.
"Lalu?" tanyaku.
"Kata ibuku, sebelum yang besar dibakar, mesti yang kecil dulu"
"Iyalah, memang begitu caranya" kataku.
"Aku takut menjadi kayu-kayu yang kecil yang di bakar di dalam neraka Jahannam sebelum yang besar." ujarnya.
Mendengar ucapannya yang terakhir itu, keringatku mengucur kemudian aku terjatuh dan pingsan. Entah berapa lama aku dalam keadaan seperti itu. Orang-orang ramai mengerumuniku. Dan ketika aku sadar aku mencari-cari anak itu namun dia sudah tidak ada.
"Dimana anak yang mangis tadi?" tanyaku kepada anak-anak yang sedang bermain tadi.
"Dia sudah pergi" Jawab mereka.
"Kalian kenal siapa anak tadi?" tanyaku lagi
"Paman tidak kenal dia?" mereka balik bertanya.
"Tidak kenal" jawabku.
"Dia dari keturunan Sidi Husain." jawab mereka.
"Sidi Husain?" tanyaku lagi.
"Tidak tau Sidi Husain?"
"Tidak" jawabku lembut.
"Sidi Husain bin Ali bin Abi Talib, cucu Nabi"
Saya menggaruk-garuk kepala seperti orang bodoh dan anak-anak itu tertawa melihatku.
END :3
Pesan moral yang kita dapat
Jangan sesekali mencoba membelikan kelereng untuk anak yang sedang menangis :)